Catatan Malam Seorang Mahasiswa Kampus Barokah
Doc. Perjalanan penulis dengan potret buramnya Pukul menunjukkan 23.32 ketika penulis meninggalkan kampus barokah. Hujan baru saja reda, namun aroma tanah basah masih melekat di udara. Di pundak penulis tergantung tas yang mulai abot bolo , bukan karena isinya, tapi karena rasa kantuk dan lelah yang mulai menyerang setelah seharian penuh dengan tugas dan rapat organisasi. Jalanan menuju Konoha malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu-lampu jalan sebagian besar padam, hanya menyisakan cahaya samar dari langit yang tertutup awan hitam uduk awan akatsuki. Penulis menelan ludah ketika roda motor mulai melintasi tugu macan , tanda penulis sudah memasuki wilayah yang konon katanya “agak ramai kalau siang, tapi angker kalau malam.” yaa begitulah narasi orang-orang desa, Fatkhul Jarene . Baru beberapa meter melewati tugu itu, PLN seolah bersekongkol dengan suasana—mati lampu. Gelap. Hanya suara serangga, desiran angin, dan tetes air hujan yang menimpa daun-daun yang menemani p...