Catatan Malam Seorang Mahasiswa Kampus Barokah
![]() |
| Doc. Perjalanan penulis dengan potret buramnya |
Pukul menunjukkan 23.32 ketika penulis meninggalkan kampus barokah. Hujan baru saja reda, namun aroma tanah basah masih melekat di udara. Di pundak penulis tergantung tas yang mulai abot bolo, bukan karena isinya, tapi karena rasa kantuk dan lelah yang mulai menyerang setelah seharian penuh dengan tugas dan rapat organisasi.
Jalanan menuju Konoha malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu-lampu jalan sebagian besar padam, hanya menyisakan cahaya samar dari langit yang tertutup awan hitam uduk awan akatsuki. Penulis menelan ludah ketika roda motor mulai melintasi tugu macan, tanda penulis sudah memasuki wilayah yang konon katanya “agak ramai kalau siang, tapi angker kalau malam.” yaa begitulah narasi orang-orang desa, Fatkhul Jarene.
Baru beberapa meter melewati tugu itu, PLN seolah bersekongkol dengan suasana—mati lampu. Gelap. Hanya suara serangga, desiran angin, dan tetes air hujan yang menimpa daun-daun yang menemani penulis. Saat itu juga, dada penulis tiba-tiba terasa berdebar tak karuan — senam jantung alias ndredek mendadak tanpa instruktur.
Penulis menarik ambekan dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. “Santai, licht's... cuma gelap. Nggak ada apa-apa,” kata penulis pelan, tapi suara penulis sendiri terasa aneh di telinga. Angin malam berhembus lebih dingin, menusuk sampai tulang. Pohon-pohon rimbang di sisi jalan bergoyang pelan, daunnya menimbulkan suara gemerisik yang anehnya seperti... bisikan.
Ketika penulis melewati pos ronda, tempat itu kosong. Tak ada suara obrolan bapak-bapak, tak ada asap rokok yang biasa mengepul di sana. Kosong. Sepi. Gelap. Jalanan panjang di depan terasa seperti lorong menuju isekai.
Akhirnya penulis menyalakan gas lebih banter, berharap cepat sampai rumah. setelah melewati beberapa kelokan, samar-samar terlihat rumah-rumah di desa konoha. Hujan masih turun tletek, namun kali ini terasa menenangkan. Aroma rimbang basah dan tanah pedalaman membuatku sadar: betapa sepinya tempat ini, tapi juga betapa nyamannya pulang meski dengan jantung yang masih ndredek.
Sesampainya di rumah, penulis menatap ke luar lawang. Angin masih berhembus pelan. Penulis tersenyum kecil dan bergumam, “Kadang, pulang bukan soal jarak... tapi soal keberanian melawan sunyi.”
Penulis : Masdim..

Komentar
Posting Komentar