Hujan, Malam, dan Bayangmu
Gambar. Ilustrasi Hujan , Malam, dan Bayangmu Dimalam yang sepi dan dingin, aku kembali berdiam dalam ruang hening, meraba-raba rasa yang semakin menyesak di dada. Di luar sana, hujan mengetuk jendela kamar seperti alunan gamelan alam yang penuh rahasia. Setiap tetesnya seakan mewakili detak rindu yang tak pernah usai, mengalir, jatuh, lalu pecah menjadi gema yang hanya aku pahami. Aku mencoba menuliskan rindu ini, namun tinta terasa terlalu kering untuk mewakili gelombang yang meluap di dalam dada. Habibati , engkau yang kini tengah terkurung indah dalam penjara suci. Di sana, hari-harimu tersusun oleh lantunan ayat suci, dzikir , dan lantunan doa yang mengudara. Sedangkan aku, di luar penjara itu, masih bergelut dengan bangku , mengejar mimpi di antara rapat, agenda-agenda yang seakan tak kenal waktu, dan suara-suara forum yang terus berdentum. Aku sibuk, namun sesungguhnya hatiku terikat oleh satu hal: rinduku padamu. Malam sering kali menjadi ruang pertemuan paling setia bag...