Hujan, Malam, dan Bayangmu
![]() |
| Gambar. Ilustrasi Hujan, Malam, dan Bayangmu |
Dimalam yang sepi dan dingin, aku kembali berdiam dalam ruang hening, meraba-raba rasa yang semakin menyesak di dada. Di luar sana, hujan mengetuk jendela kamar seperti alunan gamelan alam yang penuh rahasia. Setiap tetesnya seakan mewakili detak rindu yang tak pernah usai, mengalir, jatuh, lalu pecah menjadi gema yang hanya aku pahami. Aku mencoba menuliskan rindu ini, namun tinta terasa terlalu kering untuk mewakili gelombang yang meluap di dalam dada.
Habibati, engkau yang kini tengah terkurung indah dalam penjara suci. Di sana, hari-harimu tersusun oleh lantunan ayat suci, dzikir, dan lantunan doa yang mengudara. Sedangkan aku, di luar penjara itu, masih bergelut dengan bangku , mengejar mimpi di antara rapat, agenda-agenda yang seakan tak kenal waktu, dan suara-suara forum yang terus berdentum. Aku sibuk, namun sesungguhnya hatiku terikat oleh satu hal: rinduku padamu.
Malam sering kali menjadi ruang pertemuan paling setia bagi kita. Aku tidak dapat menemuimu, tidak dapat sekadar menyentuh jemarimu, apalagi merasakan hadirmu secara nyata. Tapi dalam diam, aku memeluk bayangmu lewat keindahan hujan. Hujan seakan mengizinkanku untuk bicara dengan alam, menitipkan salam rahasia kepadamu di balik derasnya air yang jatuh ke bumi.
Rindu ini, sayang, adalah labirin yang panjang. Aku berjalan di lorong-lorongnya tanpa henti, mencari pintu keluar, tapi setiap kali hampir menemukannya, aku kembali terjebak dalam wajahmu yang terus hadir di imaji. Senyummu menari-nari di sela kesibukan, matamu seolah terpatri di antara halaman buku-buku yang kubaca, dan suaramu menggema di ruang-ruang diskusi. Ah, betapa aku ingin sekali menemuimu, sekadar berkata: “Aku merindukanmu.”
Namun aku tahu, ada dinding tak kasat mata yang memisahkan kita. Dinding itu bukanlah penghalang cinta, melainkan ujian kesabaran. Kau sedang menuntut ilmu, mengabdi di jalan yang suci, sedangkan aku sedang belajar menguatkan diri dengan aktivitas yang menguras tenaga dan pikiran. Kita sama-sama berjuang, meski di medan yang berbeda.
Sering kali aku bertanya kepada malam, apakah rinduku ini sampai kepadamu? Apakah dalam doamu, namaku pernah kau sebut meski hanya dalam bisikan lirih setelah sujud panjang? Aku percaya, cinta yang berlandaskan doa tidak pernah sia-sia. Walau jarak ini terasa getir, aku yakin ia akan melahirkan manis yang kelak dapat kita rasakan bersama.
Malam semakin larut. Hujan belum juga reda, dan aku semakin hanyut dalam bait-bait ingatan tentangmu. Aku teringat percakapan terakhir kita, ketika kau bercerita tentang betapa padatnya jadwalmu. Sementara aku menceritakan betapa sibuknya rapat-rapat, laporan yang menumpuk, dan tugas yang tak ada habisnya. Kita tertawa, lalu hening, karena sadar, kesibukan itu adalah alasan mengapa kita jarang sekali bertemu.
Namun, sayangku, bukankah rindu yang terjaga lebih indah daripada pertemuan yang terlalu mudah? Bukankah cinta yang diuji jarak lebih kuat daripada cinta yang setiap saat bisa diraih? Aku ingin percaya bahwa setiap malam yang kulewati dengan kerinduan ini adalah bagian dari perjalanan kita menuju cinta yang lebih matang.
Aku tidak memelukmu malam ini, tidak juga esok, mungkin pun tidak lusa. Tapi aku memeluk malam, aku memeluk hujan, aku memeluk sepi yang penuh bayangmu. Semoga suatu hari nanti, ketika waktunya tiba, aku tidak lagi memeluk hampa, tapi sungguh dapat memelukmu dengan utuh.
Hingga hari itu datang, biarlah rinduku tetap bernafas dalam doa, bersemayam dalam kalbu, dan menetes bersama hujan yang kini terus jatuh, menenangkan malam, sekaligus menyalakan harapan.
Penulis : Licht's (nama pena)

Komentar
Posting Komentar