Dua Pohon Randu Alas Patah Secara Bersamaan

Foto pohon randu alas yang patah

Blitar – Sebuah peristiwa langka dan penuh makna terjadi pada dua pohon randu alas raksasa yang berada di dua lokasi berbeda: Desa Tumpak Kepuh, Kecamatan Bakung, Kabupaten Blitar, Jawa Timur dan wilayah Solo, Jawa Tengah.

Kedua pohon ini—yang secara turun-temurun diyakini sebagai sepasang “randu alas perempuan dan laki-laki”—dilaporkan patah pada waktu yang sama: hari, tanggal, bulan, tahun, bahkan jamnya.


Peristiwa ini mengejutkan warga dan para pecinta sejarah serta budaya lokal. Pasalnya, kedua pohon tersebut bukan hanya sekadar pohon tua, melainkan juga peninggalan sejarah yang diyakini berasal dari masa Kerajaan Kediri, serta dikelilingi oleh cerita mistis dan simbolik yang kuat.


Menurut warga sekitar, pohon randu alas di Blitar yang dikenal sebagai randu alas perempuan memiliki energi spiritual yang saling terhubung dengan pohon pasangannya di Solo, yang disebut randu alas laki-laki. Hubungan keduanya sering diibaratkan sebagai dua jiwa yang menyatu dalam ikatan batin yang tak terlihat.


Namun, saat kedua pohon itu patah secara bersamaan, muncul refleksi mendalam dari masyarakat: bahwa tak ada yang abadi di dunia ini, termasuk kekuatan fisik dan keperkasaan. Sekokoh dan sekuat apa pun sesuatu—termasuk manusia—pasti punya titik lemah dan masa rapuhnya.


Meski batang utama pohon randu alas di Blitar telah patah, tingginya masih mencapai kurang lebih 30 meter. Reruntuhan batang besarnya tetap berdiri tegak dan menjadi simbol keteguhan, bahwa meski telah mengalami keretakan, ia tetap menyisakan kekuatan dan wibawa.


“Ini bukan sekadar fenomena alam. Ini seperti pesan kehidupan,” ujar Ubaid Dimas, pemuda yang sempat melakukan ekspedisi ke lokasi pohon tersebut. “Bahwa dalam hidup, kita boleh kokoh dan hebat, tapi tetap harus rendah hati, karena sewaktu-waktu kita bisa rapuh. Namun, seperti pohon ini, meski patah, ia tetap berdiri dan memberi makna.”


Peristiwa patahnya dua pohon ini juga menjadi momentum pengingat akan pentingnya menjaga warisan alam dan budaya, karena setiap pohon tua bukan hanya menyimpan oksigen, tapi juga menyimpan sejarah, cerita, dan nilai kehidupan.


Kini masyarakat sekitar berharap agar pohon tersebut tetap dirawat dan dilestarikan sebagai monumen alam dan simbol spiritual. Bahkan meski tak lagi utuh, keberadaan pohon randu alas ini tetap menyampaikan pesan: bahwa kekuatan sejati bukanlah tidak pernah jatuh, melainkan mampu tetap teguh setelah patah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

4 Mahasiswa STIT AL-MUSLIHUN TLOGO KANIGORO Temukan Warung Semprul, Tempat Ideal untuk Ngedate dan Reuni

Konferancab IV PAC IPNU-IPPNU Wonotirto Sukses Digelar, Rizal dan Afifi Terpilih Sebagai Mandataris Baru

Mengapa Semangat Siswa MA Sirojuth Tholibin Tak Surut di Tengah Panas Saat Lomba PBB Blitar?