Wow! Pohon Randu Alas Tertua di Dunia Ada di Blitar, Disambangi Dua Pemuda dalam Ekspedisi Unik
![]() |
| Foto Udin,Kalimantan Selatan |
![]() |
| Foto Ubaid Dimas,Wonotirto,Blitar |
Blitar – 13 Juli 2025
Sebuah penemuan mencengangkan datang dari Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Di Desa Tumpak Kepuh, Kecamatan Bakung, terdapat sebuah pohon randu alas raksasa yang disebut-sebut sebagai pohon randu tertua di dunia. Keberadaannya yang kokoh dan megah menjadi daya tarik luar biasa, bukan hanya karena ukurannya yang fantastis, tapi juga karena kisah sejarah dan mistis yang melingkupinya.
Menurut penuturan warga setempat, pohon randu alas ini telah ada sejak sebelum bangsa Belanda menjajah Indonesia, menjadikannya saksi bisu dari berbagai zaman dan peristiwa bersejarah. Bahkan, menurut cerita turun-temurun, pohon ini diyakini sebagai peninggalan dari masa Kerajaan Kediri, sebuah kerajaan besar yang pernah berjaya di tanah Jawa pada abad ke-11 hingga ke-13. Hal ini memperkuat dugaan bahwa pohon tersebut berusia ratusan bahkan mungkin lebih dari seribu tahun.
Pada Minggu, 13 Juli 2025, dua pemuda melakukan ekspedisi khusus untuk melihat langsung pohon randu raksasa tersebut. Mereka adalah Ubaid Dimas, pemuda asal Dusun Sweden, Desa Kaligrenjeng, Kecamatan Wonotirto, Blitar, bersama Udin, adik dari ayahnya yang tinggal di Kalimantan Selatan. Keduanya berangkat dengan semangat untuk menyaksikan langsung keajaiban alam yang tersimpan di tanah kelahirannya.
Sesampainya di lokasi, mereka dibuat takjub oleh ukuran dan kemegahan pohon tersebut. Akar-akarnya besar dan kuat menjalar di permukaan tanah, sementara batangnya menjulang tinggi menembus rimbunnya hutan. Warga sekitar menyebut pohon ini sebagai randu alas perempuan, yang konon memiliki pasangan berupa randu alas laki-laki yang berada di wilayah Solo, Jawa Tengah.
Cerita mistis turut memperkuat aura magis dari pohon ini. Masyarakat percaya bahwa setiap bunga dari pohon perempuan di Blitar akan dibawa oleh makhluk gaib menuju pohon pasangannya di Solo. Lebih mencengangkan lagi, kedua pohon ini dikabarkan pernah patah secara bersamaan, pada hari, tanggal, bulan, tahun, bahkan jam yang sama—fenomena langka yang sampai hari ini belum terjelaskan secara ilmiah.
“Rasanya seperti masuk ke dunia yang berbeda ketika berdiri di bawah pohon ini,” ungkap Ubaid Dimas. “Kami tidak hanya melihat pohon, tapi juga menyerap energi sejarah dan cerita-cerita luar biasa dari warga sekitar. Ini bukan sekadar ekspedisi alam, tapi juga ziarah budaya.”
Keberadaan pohon randu alas ini kini menjadi perhatian banyak kalangan. Masyarakat berharap pemerintah, peneliti, dan pecinta lingkungan dapat bersama-sama menjaga kelestariannya. Selain nilai ekologis dan sejarah, pohon ini juga menyimpan kekayaan budaya yang patut dijaga untuk generasi mendatang.
Pohon randu alas di Blitar bukan sekadar pepohonan tua—ia adalah penjaga sejarah, simbol peradaban lokal, dan bukti betapa luar biasanya alam Indonesia.


Komentar
Posting Komentar