September Hitam, Pentas Seni yang Membuka Mata
![]() |
| Doc. Pentas seni kelompok 1 |
Sabtu, 27 September 2025, panggung Arena Kreasi PBAK STIT Al-Muslihuun Tlogo Blitar menjadi saksi lahirnya sebuah karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menggugah kesadaran. Kelompok 1 menampilkan musikalisasi puisi Mata Luka Sengkon Karta, sebuah pertunjukan yang menyatukan seni dan kritik sosial.
![]() |
| Doc. Momentum makan bersama pendamping kelompok 1 dan juga para anggotanya |
Di bawah pendampingan Ubaid Dimas Romandhan sebagai pendamping kelompok, para anggota yang terdiri dari Dana Eka Rahmawati, Fatwa Husnatun Naharin, Zuli Hawa Assalamah, Moh. Chizqy Labib Asrofi, Lailatul Nur Aisyah, Dewi Zulfa Ikvini, dan Moechamad Bagus Bana berhasil menampilkan karya yang menakjubkan.
Mereka menghidupkan kembali kisah pilu Sengkon dan Karta, bukan sekadar pertunjukan, tetapi sebuah pengingat bahwa penindasan dan pelanggaran HAM tidak boleh dibiarkan membeku dalam ingatan sejarah.
Dibawah adalah sedikit cuplikan video pentas seni kelompok 1
Tema “September Hitam” yang mereka usung semakin menegaskan bahwa mahasiswa bukan hanya pengisi kursi kuliah, melainkan agen perubahan yang harus kritis terhadap berbagai kebijakan dan isu sosial.
Pertunjukan itu berhasil menyampaikan pesan mendalam: jangan pernah menjadi budak kebijakan yang ampas, jangan pernah diam saat ketidakadilan menelan korban.
Kekuatan seni terletak pada kemampuannya menyentuh hati sekaligus menggerakkan pikiran. Musikalisasi puisi ini membuktikan bahwa mahasiswa baru STIT Al-Muslihuun mampu menghadirkan karya yang tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga bernilai perjuangan. Inilah bukti bahwa ruang akademik bukan sekadar tempat belajar teori, melainkan juga ruang lahirnya kesadaran sosial.
Pentas “Mata Luka Sengkon Karta” mengajarkan kita bahwa seni dapat menjadi senjata perlawanan. Semoga semangat kritis yang ditunjukkan oleh kelompok 1 di bawah pendampingan Ubaid Dimas Romandhan mampu menular kepada mahasiswa lain, agar bersama-sama kita menjaga nurani dan melawan segala bentuk penindasan. Karena mahasiswa yang diam adalah kemewahan bagi para penindas, sementara mahasiswa yang kritis adalah ancaman bagi setiap ketidakadilan.
Penulis :Ubaid Dimas


Komentar
Posting Komentar