Lika-Liku Kehidupan dalam Satu Bulan: Belajar dari Pernikahan, Kehilangan, dan Keteladanan
![]() |
| Doc. Ilustrasi gambar lika-liku kehidupan |
Dalam perjalanan hidup, setiap hari membawa cerita yang berbeda. Ada hari yang dipenuhi kebahagiaan, ada pula hari yang mengajarkan arti kehilangan. Ada saat kita tertawa bersama, tetapi tidak lama kemudian kita harus mengusap air mata. Begitulah kehidupan, selalu menghadirkan pelajaran yang tak pernah berhenti.
Dalam kurun waktu yang singkat, tepatnya di penghujung bulan Juli 2026, saya menyaksikan beberapa peristiwa yang begitu membekas di hati. Peristiwa-peristiwa tersebut mengajarkan bahwa hidup bukan hanya tentang menikmati kebahagiaan, tetapi juga tentang memahami makna syukur, kepedulian, dan penghormatan kepada sesama.
Jodoh yang Hanya Berjarak Lima Langkah
Hari Jumat, 24 Juli 2026, saya menghadiri sebuah walimatul 'ursy. Ada hal yang sangat menarik perhatian saya. Rumah mempelai pria dan mempelai wanita berada dalam jarak yang sangat dekat. Orang-orang bahkan berseloroh bahwa mereka adalah "jodoh lima langkah" karena rumah keduanya hanya terpaut beberapa meter saja.
Ketika rombongan mengantar mempelai pria menuju rumah mempelai wanita, seluruh warga Dusun Sweden Kaligrenjeng berjalan kaki bersama-sama. Tidak ada iring-iringan kendaraan yang panjang, tidak ada kemewahan yang berlebihan. Suasana terasa sederhana, hangat, dan penuh kebersamaan.
Pemandangan itu seolah membawa imajinasi saya pada praktik pernikahan di masa lampau, ketika masyarakat berjalan bersama mengantarkan pengantin sebagai bentuk gotong royong dan rasa persaudaraan. Saya menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari kemegahan acara, melainkan dari eratnya hubungan antar manusia yang saling mendoakan.
Sehari, Dua Kisah yang Berbeda
Keesokan harinya, Sabtu, 25 Juli 2026, saya menghadiri acara khitanan di Desa Kali Kuning. Suasana penuh keceriaan. Anak-anak bermain, tamu berdatangan, dan doa-doa dipanjatkan agar sang anak tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan berbakti kepada orang tua.
Namun, di hari yang sama, kabar duka datang. Seorang warga Dusun Sweden Kaligrenjeng meninggal dunia setelah terjatuh dari pohon.
Betapa cepatnya kehidupan memperlihatkan dua sisi yang bertolak belakang. Di satu tempat terdengar tawa dan ucapan selamat, sementara di tempat lain keluarga sedang menangis melepas orang yang mereka cintai. Peristiwa itu kembali mengingatkan saya bahwa kehidupan memang tidak pernah dapat diprediksi. Manusia hanya mampu merencanakan, sedangkan segala ketentuan tetap berada dalam kuasa Allah SWT.
Mengantar Doa ke Kediri
Hari Minggu, 26 Juli 2026, saya berangkat menuju Kediri untuk bertakziah ke rumah almarhumah, ibu dari suami adik ibu saya. Beliau sebelum meninggal dunia ternyata sempat terjatuh di kamar mandi.
Di rumah duka, suasana haru begitu terasa. Kehadiran keluarga, kerabat, dan tetangga menjadi bukti bahwa dalam Islam, berbela sungkawa bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi juga menghadirkan doa, empati, dan penguatan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Takziah mengingatkan saya bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta. Yang membedakan hanyalah waktu dan cara kita dipanggil.
Keteladanan Seorang Santri
Hari Senin, 27 Juli 2026, saya menghadiri pelantikan organisasi mahasiswa di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Jatinom.
Di sela-sela mempersiapkan kegiatan, saya menyaksikan sebuah pemandangan sederhana, tetapi sangat menyentuh hati. Seorang santri sedang makan. Nasinya bahkan belum habis. Tiba-tiba ia melihat sang kiai berjalan seorang diri menuju masjid.
Tanpa berpikir panjang, santri tersebut langsung menghentikan makannya. Ia berlari menghampiri sang kiai, meraih tangan beliau, lalu mendampinginya berjalan menuju masjid.
Mungkin bagi sebagian orang, peristiwa itu terlihat biasa. Namun, bagi saya, itulah pelajaran akhlak yang luar biasa. Hormat kepada guru bukan sekadar diucapkan dalam kata-kata, melainkan diwujudkan melalui tindakan nyata. Adab didahulukan sebelum ilmu. Sikap seorang santri tersebut menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak hanya diajarkan di dalam kelas, tetapi hidup dalam keseharian pesantren.
Penutup
Empat hari berturut-turut menghadirkan empat pelajaran kehidupan yang berbeda. Pernikahan mengajarkan arti kebersamaan. Khitanan yang disusul kabar duka mengingatkan bahwa bahagia dan sedih bisa hadir dalam satu waktu. Takziah menyadarkan bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara. Sementara itu, keteladanan seorang santri menunjukkan bahwa akhlak adalah mahkota ilmu.
Hidup memang penuh lika-liku. Tidak semua jalan yang kita lalui selalu datar dan mudah. Namun, di setiap peristiwa selalu ada hikmah yang dapat dipetik, asalkan kita mau merenung dan mengambil pelajaran.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan hati yang mampu bersyukur ketika diberi kebahagiaan, bersabar ketika diuji dengan kesedihan, serta menjaga adab dan akhlak dalam setiap langkah kehidupan. Aamiin.
Penulis :Ubaid Dimas.

Komentar
Posting Komentar