Saat Budaya Menjadi Jalan Ibadah: Makna Unggahan dan Nyekar di Tanah Jawa
![]() |
| Doc. Potret bunga yang dibawa penziarah makam |
Tradisi unggahan dan nyekar yang dilaksanakan masyarakat di Sweden Kaligrenjeng, Wonotirto, Blitar, merupakan potret indah bagaimana budaya lokal Jawa tetap hidup berdampingan dengan nilai-nilai spiritual Islam.
Tradisi ini bukan sekadar ritual turun-temurun, tetapi juga simbol rasa syukur, kebahagiaan, dan kesiapan batin dalam menyambut bulan suci Ramadhan.
Secara positif, unggahan atau kenduri menunjukkan kuatnya nilai gotong royong dan kebersamaan.
Masyarakat berkumpul, berdoa, dan berbagi makanan sebagai bentuk solidaritas sosial. Ini sejalan dengan ajaran agama yang menekankan pentingnya silaturahmi dan berbagi rezeki sebelum memasuki bulan penuh berkah.
Sementara tradisi nyekar mengandung makna reflektif: manusia diingatkan akan asal-usulnya, jasa leluhur, serta kenyataan bahwa hidup di dunia bersifat sementara. Kesadaran ini justru memperdalam keimanan karena menumbuhkan kerendahan hati dan kesiapan memperbaiki diri.
Jika dikaitkan dengan tradisi Arab atau ajaran Islam, praktik ini memiliki titik temu yang kuat. Dalam Islam terdapat anjuran ziarah kubur untuk mengingat kematian dan akhirat, sebagaimana praktik nyekar.
Di beberapa negara Timur Tengah pun, masyarakat memiliki kebiasaan berziarah menjelang Ramadhan atau hari besar Islam. Artinya, meskipun bentuk budaya berbeda, esensinya sama: mendekatkan diri kepada Allah, membersihkan hati, dan memperkuat hubungan keluarga baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.
Dari sudut pandang ini, tradisi Jawa seperti unggahan dan nyekar bukanlah praktik yang bertentangan dengan agama, melainkan jembatan kultural yang memperkaya cara umat memahami nilai spiritual. Budaya menjadi wadah, agama menjadi ruhnya. Ketika keduanya berjalan selaras, lahirlah praktik keagamaan yang tidak hanya sakral, tetapi juga hangat, membumi, dan penuh makna sosial.
Penulis : Ubaid Dimas Romandhan

Komentar
Posting Komentar